Inversi Di tengah perlambatan investasi teknologi global atau yang kerap disebut sebagai tech winter, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) justru membuka peluang baru bagi industri modal ventura di Indonesia.
Perkembangan teknologi AI yang semakin pesat dinilai mampu menjadi sumber pertumbuhan alternatif, baik melalui pendanaan langsung kepada perusahaan pengembang teknologi AI maupun melalui penerapan teknologi tersebut di berbagai sektor ekonomi.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, serta Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menyampaikan bahwa AI berpotensi menjadi salah satu motor penggerak kinerja industri modal ventura ke depan.
Menurutnya, pemanfaatan AI tidak terbatas pada sektor teknologi semata, melainkan dapat diintegrasikan ke berbagai bidang usaha yang membutuhkan efisiensi, analisis data, dan inovasi berbasis digital.
“Peluang tersebut dapat dimanfaatkan baik melalui pendanaan langsung kepada perusahaan pengembang AI maupun secara tidak langsung melalui penerapan AI pada sektor-sektor ekonomi lainnya,” ujar Agusman dalam lembar jawaban tertulis Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, Sabtu (10/1/2026).
Agusman menilai, meskipun industri modal ventura masih berada dalam tekanan akibat tech winter, kinerjanya pada 2026 tetap memiliki ruang untuk tumbuh secara positif, meski dengan laju yang terbatas. Optimisme tersebut didukung oleh mulai menguatnya minat pendanaan terhadap perusahaan rintisan (startup) yang telah mencatatkan profitabilitas dan memiliki model bisnis berkelanjutan.
Selain sektor teknologi berbasis AI, OJK juga melihat peluang ekspansi pembiayaan ke sektor hilirisasi industri. Hilirisasi dinilai memiliki prospek jangka panjang karena berkaitan dengan peningkatan nilai tambah sumber daya alam dan penguatan struktur ekonomi nasional.
Di samping itu, investasi berbasis syariah juga dipandang sebagai potensi pertumbuhan baru bagi industri modal ventura, seiring meningkatnya minat terhadap pembiayaan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan keadilan.
Agusman menambahkan, sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk jasa reparasi dan perawatan mobil serta sepeda motor, berpotensi menjadi salah satu sasaran pembiayaan modal ventura pada 2026. Sektor tersebut dinilai memiliki permintaan yang relatif stabil serta peluang integrasi teknologi digital, termasuk pemanfaatan AI untuk manajemen rantai pasok dan layanan pelanggan.
Namun demikian, OJK mengingatkan bahwa industri modal ventura tetap harus mewaspadai sejumlah tantangan yang masih membayangi. Dampak tech winter yang belum sepenuhnya berakhir, dinamika perekonomian global, serta keterbatasan sumber pendanaan menjadi faktor risiko yang perlu dikelola secara cermat.
Oleh karena itu, prinsip kehati-hatian dan selektivitas dalam penyaluran pembiayaan menjadi kunci utama menjaga keberlanjutan industri. Dari sisi kinerja, OJK mencatat laba bersih industri modal ventura mencapai Rp579,77 miliar per November 2025. Angka tersebut melonjak sebesar 150,98 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Agusman menjelaskan bahwa pertumbuhan laba ini didorong oleh peningkatan pendapatan serta perbaikan kualitas portofolio pembiayaan, yang dilakukan melalui strategi investasi yang lebih selektif dan terukur.
Menurut OJK, pelaku industri modal ventura kini semakin fokus pada pembiayaan usaha yang memiliki fundamental kuat, tata kelola yang baik, serta prospek pertumbuhan jangka panjang. Pergeseran strategi ini menjadi respons terhadap tekanan tech winter yang memaksa investor untuk lebih berhati-hati dan menghindari pembiayaan yang bersifat spekulatif.
Sebagai informasi, tech winter merupakan periode penurunan signifikan dan berkepanjangan pada investasi teknologi serta aktivitas bisnis perusahaan rintisan. Fenomena ini dipicu oleh berbagai faktor, antara lain kenaikan suku bunga global, ketidakpastian ekonomi, serta koreksi valuasi perusahaan teknologi.
Meski demikian, OJK menilai dampak tech winter mulai lebih terkendali seiring dengan penyesuaian strategi investasi yang dilakukan oleh pelaku industri. Data OJK menunjukkan bahwa nilai pembiayaan industri modal ventura mencapai Rp16,29 triliun per November 2025, atau tumbuh sebesar 1,2 persen secara tahunan (year on year).
Sementara itu, nilai aset industri modal ventura tercatat sebesar Rp27,12 triliun, meningkat 4,63 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini mencerminkan ketahanan industri di tengah tekanan global serta potensi pemulihan yang mulai terlihat.
Ke depan, OJK berharap industri modal ventura dapat memanfaatkan momentum perkembangan AI sebagai sarana memperkuat daya saing dan mendorong inovasi. Dengan pendekatan yang selektif, adaptif, dan berbasis tata kelola yang baik, teknologi AI diharapkan mampu menjadi peluang strategis bagi industri modal ventura untuk tetap tumbuh di tengah tantangan ekonomi global.