INVERSI.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman tarif tinggi terhadap produk Prancis jika Presiden Emmanuel Macron benar-benar menolak undangan bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza, sebuah badan yang digagas Washington untuk mendorong berakhirnya konflik di wilayah tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam konferensi pers usai menghadiri ajang olahraga perguruan tinggi di Miami, Florida, Senin waktu setempat. Trump awalnya merespons dengan nada meragukan laporan yang menyebut Macron menolak inisiatif Amerika Serikat tersebut.
“Apakah benar ia berkata demikian?” kata Trump saat ditanya tanggapannya terkait laporan bahwa Macron menolak bergabung ke badan yang diinisiasi Amerika Serikat itu.
Namun, Trump kemudian melontarkan komentar bernada tajam terkait posisi politik Macron di Prancis.
“Tapi, tidak ada yang menginginkan dia juga, karena dia akan mengakhiri masa jabatnya dalam waktu dekat,” ucap Presiden AS.
Ancaman Tarif terhadap Produk Prancis
Trump menyebut jika laporan penolakan tersebut benar adanya, Amerika Serikat berpotensi mengenakan tarif sangat tinggi terhadap produk unggulan Prancis.
Trump kemudian berkata jika laporan tersebut benar, ia mungkin “akan menetapkan tarif 200 persen terhadap anggur dan sampanye Prancis”, dan Macron “akan bergabung”.
Meski demikian, Trump menegaskan ancaman tersebut bersifat kondisional dan tidak bersifat paksaan.
Ia menegaskan bahwa hal tersebut hanya akan dilakukan jika Macron benar menyatakan menolak bergabung ke Dewan Perdamaian Gaza. “Namun, ia tidak harus bergabung,” kata dia, menambahkan.
Sikap Macron dan Kekhawatiran terhadap PBB
Laporan televisi Prancis BFM menyebutkan bahwa berdasarkan keterangan sumber internal, Presiden Macron memang berencana menolak undangan Trump untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza.
Macron dikabarkan khawatir badan tersebut berpotensi meluas ke isu-isu di luar Gaza. Ia menilai langkah itu bisa melemahkan fondasi serta struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai institusi multilateral utama dalam penyelesaian konflik global.
Rencana Amerika Serikat di Gaza
Gedung Putih, dalam pernyataan resmi pada Jumat (16/1), mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza sebagai bagian dari implementasi 20 poin rencana Trump untuk mengakhiri perang Israel di Gaza secara permanen dan memulai proses rekonstruksi wilayah tersebut.
Dewan ini disebut akan berperan dalam pengawasan strategis, mobilisasi sumber daya internasional, serta memastikan akuntabilitas selama masa transisi Gaza dari konflik menuju perdamaian dan pembangunan.
Selain itu, Amerika Serikat juga membentuk Komite Nasional untuk Administrasi Gaza guna menjalankan fase kedua Rencana Komprehensif Trump. Struktur tersebut diperkuat dengan pembentukan Dewan Eksekutif pendiri dan Dewan Eksekutif Gaza untuk mendukung kerangka kerja transisi.
Trump turut mengundang sejumlah kepala negara dan pemerintahan untuk bergabung dalam dewan tersebut, termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.