LANGKAT
Di balik operasi pencarian dan penyelamatan yang berlangsung tanpa henti di Sumatera, Tim SAR dan Basarnas menghadapi bukan hanya medan berat, tetapi juga gelombang emosional dari para korban bencana banjir dan longsor.
Kekurangan makanan, listrik yang belum pulih, kelangkaan air bersih, hingga kecemasan akan keselamatan keluarga membuat warga berada dalam kondisi tertekan. Situasi itu kerap memunculkan ledakan emosi, sebagaimana terlihat dalam sebuah video viral dari Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, ketika seorang ibu meluapkan kemarahannya kepada personel Basarnas yang dianggap lambat membantu, pada Senin (1/12)
Menanggapi hal tersebut, Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, menegaskan petugas di lapangan bekerja berdasarkan standard operating procedure (SOP) yang mengatur prioritas evakuasi. “Kami harus membuat prioritas. Mana kelompok rentan, ibu-ibu, anak-anak, bayi, dan lainnya,**” ujar Edy di Dermaga Inggom, Tanjung Priok, Jakarta, seperti dilansir ari Antara, Selasa (2/12).
Ia menjelaskan, warga sering kali melihat personel SAR bergerak hilir-mudik tanpa memahami bahwa mereka sedang menjalankan tugas yang sangat terstruktur. Sementara kebutuhan warga di lapangan terus meningkat dan tak jarang bercampur dengan kepanikan serta rasa putus asa.
Meski menghadapi tekanan emosional, Edy menyebut pihaknya memahami kondisi psikologis warga di tengah bencana. “Hal umum, jika ada yang bersikap seperti itu, untuk berpikir sehat ya agak susah. Muncul bagaimana dia mempertahankan diri, bagaimana supaya bisa hidup,” katanya.
Tekanan serupa juga muncul dari keluarga korban yang masih hilang dan menuntut pencarian dilakukan tanpa jeda, termasuk di malam hari. Namun, Edy menegaskan bahwa keselamatan tim juga harus dijaga.
“Masyarakat kadang tidak mau tahu, pokoknya ‘cari malam ini!’, padahal justru bisa mengorbankan tim kami.” Meski begitu, pemantauan dan penyisiran tetap dilakukan semaksimal mungkin. Di tengah duka dan keputusasaan, para personel SAR terus berusaha hadir sebagai sandaran terakhir warga yang kehilangan hampir segalanya.