By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Waspada Konten Digital, Anak SD Kini Bisa Tembus Pembatasan dengan VPN
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Waspada Konten Digital, Anak SD Kini Bisa Tembus Pembatasan dengan VPN

Kesehatan

Waspada Konten Digital, Anak SD Kini Bisa Tembus Pembatasan dengan VPN

Jack
By
Jack
4 months ago
Share
3 Min Read
Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ, Subsp. AR (K) (kanan) saat menjelaskan bahaya anak akses internet tanpa pendampingan orang tua. (Foto: Antaranews)
SHARE

INVERSI.ID – Kepala Divisi Psikiatri Anak dan Remaja FKUI-RSCM Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ, Subsp. AR (K) mengingatkan risiko serius yang mengintai anak-anak ketika mengakses video secara daring tanpa pendampingan orang tua. Paparan layar yang berlebihan dinilai dapat memengaruhi perkembangan otak yang masih dalam tahap pematangan.

“Kita tahu bahwa yang bisa membantu kita adalah lobus frontal, yaitu otak bagian depan dan pada anak itu dalam proses perkembangannya, kematangannya, paling lambat sekitar 25 tahun usianya,” kata Tjhin Wiguna dalam acara Hari Keamanan Berinternet 2026 di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan bahwa lobus frontal berperan penting dalam pengendalian emosi, perilaku, hingga kemampuan mengambil keputusan. Pada anak dan remaja, bagian otak ini belum berkembang secara optimal sehingga lebih rentan terdampak kebiasaan yang tidak sehat, termasuk konsumsi konten digital tanpa batas.

Tjhin menuturkan, kebiasaan menonton tanpa henti membuat anak sulit melepaskan diri dari layar gawai. Ketika otak terus-menerus terpapar stimulasi visual dalam waktu lama, kemampuannya untuk mengontrol diri dapat menurun.

“Kalau anak bertahan nonton terus menerus maka otak bagian itu akan semakin lama semakin tumpul. Akibatnya, kontrol emosi, kontrol perilakunya jadi terganggu,” ujar Tjhin.

Gangguan kontrol diri tersebut, lanjutnya, kerap terlihat saat anak diminta berhenti menggunakan gadget. Reaksi yang muncul bisa berupa teriakan, kemarahan, hingga tangisan histeris ketika perangkat diambil oleh orang tua.

Ia menyayangkan masih banyak orang tua yang belum konsisten dalam menerapkan aturan penggunaan gadget. Dalam sejumlah kasus, orang tua justru kembali memberikan perangkat demi menenangkan anak, tanpa menyadari dampak jangka panjangnya.

Di sisi lain, konten digital yang beredar saat ini juga semakin kompleks dan berisiko. Tjhin mencontohkan adanya tayangan kartun yang menyisipkan adegan kekerasan atau muatan yang tidak sesuai usia anak.

Pendampingan orang tua, menurutnya, bukan sekadar mengawasi, tetapi juga membatasi akses anak ke ruang digital yang lebih luas dan berpotensi berbahaya. Ia bahkan mengungkap temuan kasus di rumah sakit, di mana anak usia sekolah dasar sudah memahami cara menembus pembatasan konten dengan memanfaatkan VPN.

Baca Juga :

Timnas Indonesia Masuk EA Sports FC, Erick Thohir Sebut Industri Olahraga Naik Kelas
Bukan Ancaman, Begini Cara Anak Muda Manfaatkan AI untuk Karier

Tjhin menegaskan bahwa pengawasan aktif orang tua sangat penting untuk mencegah kecanduan gadget dan internet pada anak. Ketergantungan yang dibiarkan dapat berkembang menjadi gangguan yang membutuhkan penanganan medis.

“Kalau sampai anaknya tidak mau lepas itu sudah sampai ke adiksi, sampai ketergantungan itu sudah paling berbahaya, karena kalau sudah ketergantungan dia sakit sebenarnya, kalau dia sakit dia harus diobati, dan akan jadi beban pemerintah juga, jadi saya rasa dari aspek saya adalah yang paling saya khawatirkan itu sebenarnya,” kata dia.

Peringatan ini menjadi refleksi penting di tengah masifnya penggunaan gadget pada anak-anak. Literasi digital keluarga dan ketegasan dalam membuat aturan dinilai sebagai kunci untuk menjaga kesehatan mental generasi muda di era internet.

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Penyakit Kawasaki Mengintai Balita, Pakar UI Beberkan Fakta dan Tantangannya di Indonesia
Next Article Mantan Direktur Teknis Kepabeanan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai R Fadjar Donny Tjahjadi (kedua kanan) mengenakan rompi tahanan usai pemeriksaan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (10/2/2026). Kejaksaan Agung menetapkan 11 tersangka terkait dugaan korupsi ekspor crude palm oil (CPO) dan palm oil mill effluent (POME) tahun 2022–2024 yang merugikan keuangan negara hingga Rp14 triliun. (Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah) Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi Ekspor CPO Berkedok POME, Libatkan Pejabat dan Swasta
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
Kesehatan

Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index