BANGKA TENGAH
Program reklamasi yang dijalankan IUP PT Timah di Desa Beriga, perairan Laut Sampur, Bangka Tengah, tak hanya sukses memulihkan ekosistem, tetapi juga terbukti menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi masyarakat lokal, menegaskan visi bahwa pertambangan dan kesejahteraan warga bisa berjalan seiring.
Bagi PT Timah, reklamasi pasca-tambang bukanlah sekadar program pemulihan lingkungan yang terencana, melainkan sebuah investasi sosial yang berkelanjutan. Ini adalah bagian integral dari DNA perusahaan, di mana siklus operasional tambang dari hulu ke hilir wajib memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat.
Salah satu bukti nyata dari komitmen ini adalah program penanaman mangrove masif di pesisir Desa Batu Beriga yang melibatkan berbagai pihak. Pada Juli 2022, PT Timah bersama Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung menanam 1.000 bibit mangrove. Inisiatif ini diperkuat dengan penanaman 2.500 pohon mangrove lainnya oleh WALHI bersama masyarakat setempat.
Penanaman mangrove ini memiliki dampak ganda. Secara ekologis, hutan mangrove menjadi benteng alami yang melindungi pesisir dari abrasi dan menjadi habitat vital bagi biota laut. Namun, secara ekonomi, inilah yang menjadi ‘mesin uang’ baru bagi warga.
“Keseimbangan antara ekonomi dan ekologi adalah kunci keberlanjutan yang kami pegang teguh. Hutan mangrove yang pulih tidak hanya mengembalikan keanekaragaman hayati, tetapi juga membuka peluang perikanan tangkap yang lebih baik bagi nelayan dan potensi ekowisata yang dapat dikelola langsung oleh masyarakat,” jelas Anggi Siahaan,Departemen Head Corporate Communication PT Timah Tbk.
Reklamasi yang dilakukan PT Timah secara cerdas mengubah lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi sumber penghidupan baru. Visi jangka panjang perusahaan adalah menciptakan kemandirian ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah operasinya.
Mulai dari munculnya pariwisata berbasis alam dengan kawasan mangrove yang hijau dan terumbu karang buatan menjadi daya tarik wisata baru, membuka peluang usaha seperti penyewaan perahu, pemandu wisata, dan kuliner. Lalu, reklamasi yang mengubah lahan menjadi area pertanian produktif dan agrowisata, sekaligus memberikan alternatif pendapatan bagi warga di luar sektor perikanan. Terakhir, pulihnya ekosistem laut melalui restocking biota dan terumbu karang buatan meningkatkan hasil tangkapan nelayan secara signifikan dan berkelanjutan.
Komitmen PT Timah tidak berhenti di sini. Perusahaan secara tegas menyatakan akan terus berinovasi dalam setiap program reklamasi untuk memastikan masa depan yang lebih hijau dan sejahtera bagi masyarakat Bangka Tengah. Ini adalah bukti bahwa Izin Usaha Pertambangan (IUP) dapat dijalankan dengan tanggung jawab, di mana keuntungan perusahaan sejalan dengan peningkatan kualitas hidup dan kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang.