By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Reading: Penyakit Kawasaki Mengintai Balita, Pakar UI Beberkan Fakta dan Tantangannya di Indonesia
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Penyakit Kawasaki Mengintai Balita, Pakar UI Beberkan Fakta dan Tantangannya di Indonesia

Kesehatan

Penyakit Kawasaki Mengintai Balita, Pakar UI Beberkan Fakta dan Tantangannya di Indonesia

Jack
By
Jack
4 months ago
Share
3 Min Read
tangkap layar Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med(Paed) menjelaskan penyakit Kawasaki pada anak. (foto: Antaranews)
SHARE

INVERSI.ID – Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med(Paed) mengungkapkan bahwa jumlah kasus penyakit Kawasaki pada anak di Indonesia diperkirakan mencapai ribuan setiap tahun. Namun, sebagian besar kasus tersebut belum terdiagnosis secara optimal.

Menurut Najib yang juga tergabung dalam Unit Kerja Koordinasi Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hingga saat ini Indonesia belum memiliki data registrasi nasional terkait kasus Kawasaki. Estimasi jumlah pasien masih mengandalkan pengamatan klinis dan pengalaman penanganan langsung di lapangan.

“Indonesia bagaimana sih berapa jumlah kasus di Kawasakinya? Nggak ada data jujur ya,” kata Najib dalam seminar daring bertema Kawasaki pada Anak yang diikuti dari Jakarta, Selasa.

Ia memperkirakan angka kejadian baru penyakit Kawasaki di Indonesia dapat mencapai 3.000 hingga 4.000 kasus per tahun. Meski demikian, jumlah pasien yang berhasil terdiagnosis dan mendapatkan penanganan medis dinilai masih jauh dari angka tersebut.

“Yang terjangkau sekitar 200 setahun. Saya sendiri sekitar 100 setahun pasien baru,” ujarnya.

Najib menjelaskan, sejak mulai melakukan sosialisasi dan penanganan penyakit Kawasaki pada 1999, dirinya telah menemukan lebih dari 2.000 kasus. Para pasien datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk memperoleh perawatan lanjutan, terutama terkait komplikasi jantung.

Dalam pemaparannya, ia menekankan tingginya risiko komplikasi pada jantung apabila penyakit Kawasaki tidak segera ditangani dengan terapi yang tepat.

“Kalau nggak diobatin, 15–25 persen anak itu akan menderita arteri koroner,” katanya.

Ia menambahkan, banyak kasus Kawasaki tidak teridentifikasi sejak awal karena gejalanya kerap menyerupai penyakit lain. Akibatnya, pasien baru datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi sudah terjadi gangguan pada pembuluh darah jantung.

Baca Juga :

PGSI BINTAN! Gulat Olahraga Prestasi Next Level!
Resmi! Megawati Tetapkan Ganjar Pranowo Jadi Capres PDIP

Keterlambatan diagnosis tersebut dapat menyebabkan pelebaran arteri koroner. Kondisi ini meningkatkan risiko serangan jantung pada anak serta kemungkinan perlunya tindakan medis lanjutan, termasuk operasi pintas pembuluh darah jantung.

Najib juga menyampaikan bahwa penyakit Kawasaki paling sering menyerang anak usia di bawah lima tahun, terutama pada rentang usia satu hingga dua tahun. Selain itu, kasus lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan perempuan.

Peningkatan kesadaran orang tua dan tenaga kesehatan terhadap gejala awal penyakit Kawasaki dinilai menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius. Edukasi yang masif dan sistem pencatatan nasional diharapkan dapat membantu deteksi dini serta penanganan yang lebih cepat dan tepat.

You Might Also Like

Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis
Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi
Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi
Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
TAGGED:IDAIKesehatan AnakPenyakit Kawasaki
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Freedom 250 Hadir di Natuna, AS Perkuat Kerja Sama Maritim dengan Indonesia
Next Article Waspada Konten Digital, Anak SD Kini Bisa Tembus Pembatasan dengan VPN
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

INDEF Desak Aturan Ketat BBM Subsidi, Hak Wong Cilik Jangan Dicuri Mafia

Dulu Numpang, Kini Mandiri! BPBL Hadirkan Terang dan Harapan Baru untuk Warga Madiun

Warga Muba Bersyukur, Hasil Sumur Rakyat Kini Legal Pasok Pertamina

Adilkah Lembur Diganti Libur? Kisruh Indomaret Picu Pro-Kontra Nasional

Target 100 GW! PLTS Raksasa di Jawa Disiapkan, Ketergantungan Energi Fosil Mulai Diputus

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

KesehatanTerkini

“Aku Enggak Kuat…”: WA Terakhir dr Myta Bongkar Dugaan Pembiaran Jam Kerja Ekstrem Dokter Magang

4 weeks ago
KesehatanTerkini

Mei Mulai Membara. BMKG Warning Gelombang Panas Hantam RI, Puncaknya Agustus–September

1 month ago
KesehatanTerkini

Kasus Tewas Dokter Internship Viral, Minim Sistem Anti-Bullying Jadi Sorotan Serius di Dunia Kerja

1 month ago
Kesehatan

Orang Tua Wajib Tahu! Ini Cara Dampingi Anak Saat Screen Time

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index