INVERSI.ID – Bank Indonesia (BI) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tekanan inflasi dalam negeri seiring lonjakan harga minyak dunia di tengah memanasnya ketegangan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kenaikan harga energi global dinilai berisiko mendorong biaya transportasi dan produksi, termasuk komoditas pangan.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menyampaikan bahwa otoritas moneter terus memantau perkembangan global melalui tiga jalur utama transmisi ke ekonomi domestik, salah satunya pergerakan harga komoditas strategis.
“Sekarang kita sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak, harga emas, dan nanti juga penting untuk melihat harga pangan. Karena kalau harga minyaknya mengalami peningkatan, tentunya ada (dampak biaya) transportasi dan lain-lain,” kata Aida di Jakarta, Senin (2/3).
Selain komoditas, BI juga mencermati dinamika pasar keuangan global yang berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah. Fluktuasi kurs dapat berdampak pada harga barang impor serta stabilitas harga di dalam negeri. Di saat yang sama, perlambatan perdagangan global turut menjadi perhatian karena dapat menekan pertumbuhan dan memengaruhi permintaan agregat serta inflasi.
“Komitmen BI tetap menjaga stabilitas. Dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga inflasi,” kata Aida.
Data terbaru menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 mencapai 4,76 persen secara tahunan (year on year/yoy). Peningkatan ini antara lain dipengaruhi low base effect, mengingat pada periode yang sama tahun lalu pemerintah menerapkan diskon tarif listrik yang memicu deflasi.
Kelompok administered prices (AP) pada Februari 2026 tercatat mengalami inflasi 12,66 persen, berbalik tajam dari kondisi Februari tahun sebelumnya yang mengalami deflasi minus 9,02 persen.
Meski demikian, BI menilai prospek ekonomi domestik 2026 masih terjaga. Momentum pertumbuhan pada kuartal I dipandang strategis, terutama karena adanya sejumlah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat.
Di sisi fiskal, konsumsi pemerintah juga diperkirakan meningkat. Pemerintah telah menyampaikan komitmen untuk merealisasikan belanja pada awal tahun guna memastikan program berjalan sesuai rencana.
“Kalau itu terjadi, tentunya konsumsi daripada swasta akan mengalami peningkatan dan tentunya ini mengakibatkan permintaan domestik mengalami peningkatan dan juga produksi-produksi lainnya,” kata Aida.
Ia menekankan pentingnya memperkuat mesin pertumbuhan dari dalam negeri di tengah ketidakpastian global. Permintaan domestik yang solid dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas dan kesinambungan ekonomi nasional.
Secara keseluruhan, BI memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang positif. Setelah mencatat pertumbuhan 5,11 persen pada 2025, laju ekonomi 2026 diperkirakan berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Inflasi juga ditargetkan tetap terkendali dalam rentang 2,5 plus minus 1 persen.
“Tentunya tentang jalur (tiga jalur utama yang dicermati BI) berbagai macam dampak dari perang, nanti akan kita terus melakukan monitoring lebih lanjut,” ujar Aida.
Dari sektor eksternal, defisit transaksi berjalan diproyeksikan tetap terjaga pada kisaran 0,9 persen hingga 0,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, pertumbuhan kredit menunjukkan tren positif. Pada akhir 2025, kredit tumbuh 9,69 persen dan meningkat menjadi 9,96 persen pada Januari 2026. Sepanjang tahun ini, pertumbuhan kredit ditargetkan berada dalam rentang 8–12 persen.
Dengan kombinasi kebijakan moneter yang hati-hati dan penguatan permintaan domestik, BI optimistis stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika global.