JAKARTA
Di balik gedung-gedung perkantoran yang megah dan hiruk pikuk jalanan, sebuah krisis senyap tengah menggerogoti jutaan rakyat Indonesia. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025 mengungkap fakta yang mengerikan: sebanyak 37,32 juta pekerja —atau satu dari empat orang—terjebak dalam fenomena overwork, bekerja lebih dari 49 jam seminggu.
Ini bukan lagi soal lembur biasa. Ini adalah potret “kerja rodi” modern di mana jutaan orang, terutama generasi produktif, terpaksa mengorbankan kesehatan fisik dan mental mereka hanya untuk bertahan hidup.
Fakta paling menyakitkan dari data ini adalah siapa yang paling menderita. Kelompok usia 35-44 tahun menjadi korban terbesar, dengan 9,5 juta orang bekerja berlebihan. Mereka adalah, generasi sandwich—generasi yang harus menanggung beban ekonomi orang tua dan anak-anak mereka sekaligus.
Diikuti oleh kelompok usia 25-34 tahun sebanyak 8,71 juta orang, yang sedang berjuang membangun fondasi hidup. Mereka terpaksa bekerja hampir 10 jam setiap hari, mengabaikan batas waktu 40 jam per minggu yang diatur dalam Undang-Undang, demi mengejar upah yang seringkali tak sepadan.
“Ini bukan sekadar tekanan ekonomi, tapi cerminan pasar kerja yang tidak sehat,” ungkap Dosen sekaligus Peneliti FEB Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Wisnu Setiadi Nugroho saat dihubungi, Selasa (27/1/2026) menanggapi data BPS. Rendahnya upah dan dominasi sektor informal memaksa mereka menerima jam kerja yang tidak manusiawi.
Jika Anda merasa lelah, lihatlah data ini. Sektor transportasi dan pergudangan menjadi neraka bagi pekerjanya, dengan 38,1% mengalami overwork. Para sopir truk, kurir paket, dan pekerja gudang adalah pahlawan logistik yang tenaganya terkuras habis di jalanan.
Menyusul di belakangnya adalah sektor perdagangan (36,8%) dan pertambangan. Para pedagang kecil di pasar harus membuka lapak dari subuh hingga larut malam, sementara para penambang mempertaruhkan nyawa dan waktu jauh dari keluarga.
Jam kerja brutal ini datang dengan tagihan yang sangat mahal: kesehatan. Bekerja berlebihan secara langsung meningkatkan risiko penyakit mematikan seperti serangan jantung dan hipertensi.
Namun, musuh yang tak terlihat justru lebih berbahaya. Kelelahan ekstrem, stres kronis, dan depresi kini menjadi teman sehari-hari bagi jutaan pekerja ini. Secara ekstrem, boleh dibilang, mereka adalah zombie-zombie modern yang raganya bekerja, namun jiwanya perlahan mati.
Fenomena ini adalah sebuah alarm merah bagi bangsa. Ketika seperempat angkatan kerja harus mengorbankan hidupnya hanya untuk hidup, ini bukan lagi masalah individu, melainkan kegagalan sistemik yang harus segera diatasi. Pertanyaannya, sampai kapan kita akan membiarkan ‘kerja rodi’ modern ini terus berlanjut?