By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Ancaman Kesehatan Bayi dan Anak di Pengungsian Banjir
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Ancaman Kesehatan Bayi dan Anak di Pengungsian Banjir

Kesehatan

Ancaman Kesehatan Bayi dan Anak di Pengungsian Banjir

Jack
By
Jack
6 months ago
Share
5 Min Read
Ilustrasi anak main air banjir.(foto: AntaraNews)
SHARE

Banjir yang melanda sejumlah kota dan kabupaten di berbagai provinsi di Indonesia memaksa ribuan warga mengungsi. Di tengah kondisi darurat tersebut, bayi dan anak menjadi kelompok paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat keterbatasan air bersih, sanitasi, serta perubahan pola hidup di lokasi pengungsian.

Contents
Penyakit yang Rentan Menyerang Anak Saat BanjirPentingnya Kebersihan dan ASI di PengungsianPeran Gizi dan Pengelolaan Pangan Anak

Dokter Spesialis Anak dr. Leonirma Tengguna, M.Sc, Sp.A, CIMI mengatakan lingkungan saat banjir dan pengungsian meningkatkan risiko paparan kuman penyebab penyakit. Keterbatasan fasilitas dasar membuat bayi dan anak lebih mudah jatuh sakit.

Penyakit yang Rentan Menyerang Anak Saat Banjir

Dokter spesialis anak yang berpraktik di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bina Medika tersebut menjelaskan, diare dan gangguan saluran cerna menjadi penyakit yang paling sering dialami bayi dan anak saat banjir. Penyakit ini umumnya dipicu oleh konsumsi air minum dan makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, maupun parasit.

“Diare sering terjadi karena air dan makanan terpapar kuman, seperti e-coli atau Salmonella. Pada bayi dan anak, diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi,” kata dokter Leonirma, Selasa (27/1).

Selain diare, infeksi saluran pernapasan akut juga kerap ditemukan di pengungsian. Udara lembap, suhu dingin, serta kepadatan hunian mempermudah penularan virus influenza dan bakteri penyebab pneumonia.

Penyakit kulit turut menjadi keluhan yang sering muncul akibat kontak langsung dengan air banjir yang kotor. Air banjir berpotensi mengandung bakteri berbahaya, termasuk Leptospira dari urine tikus, sehingga meningkatkan risiko leptospirosis. Genangan air pascabanjir juga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk yang dapat memicu demam berdarah dengue pada anak.

Leonirma menambahkan, bayi dan anak lebih rentan terserang penyakit karena sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna. Cadangan cairan tubuh yang lebih sedikit juga membuat anak lebih cepat mengalami dehidrasi. Perilaku eksploratif, seperti memasukkan tangan atau benda ke mulut, semakin meningkatkan risiko paparan kuman.

Orang tua diminta waspada terhadap tanda awal penyakit, seperti perubahan pola buang air besar, batuk, pilek, napas cepat atau berat, demam yang tidak kunjung turun, tubuh sangat lemas, serta kelainan kulit berupa kemerahan, bintil berair, atau luka yang sulit sembuh.

Pentingnya Kebersihan dan ASI di Pengungsian

Dalam kondisi pengungsian yang minim air bersih dan sanitasi, Leonirma menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Air minum harus dipastikan aman dengan cara dimasak hingga mendidih atau menggunakan air kemasan dengan segel utuh. Kebersihan tangan perlu dijaga dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau pembersih tangan sebelum menyuapi anak dan setelah mengganti popok.

Baca Juga :

7 Karakter Wanita Zodiak Aquarius dalam Hubungan Percintaan
5 Daftar Makanan yang Rendah Kalori, Cocok untuk Diet!

Anak juga disarankan tidak bermain di genangan air banjir. Jika terpapar air kotor, orang tua diminta segera memandikan anak dengan sabun dan memastikan penggunaan alas kaki.

Pemberian air susu ibu atau ASI bagi bayi juga dinilai sangat penting. ASI dianggap lebih aman dan higienis dibandingkan susu formula, terutama ketika akses air bersih terbatas.

Peran Gizi dan Pengelolaan Pangan Anak

Dokter dan ahli gizi masyarakat Dr dr Tan Shot Yen, MHum menyoroti risiko pemberian pangan yang tidak sesuai usia pada bayi dan anak selama berada di pengungsian. Ia menyebut, bayi dan anak kerap diberikan makanan atau minuman yang tidak ramah anak, termasuk susu formula dan produk kemasan, meski kondisi air bersih tidak memadai.

Distribusi bantuan pangan yang tidak terkoordinasi dinilai berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan bayi dan anak. Donasi susu formula sering diterima tanpa mempertimbangkan aspek keamanan pangan dan sanitasi.

Tan mendorong pendirian dapur pemberian makan bayi dan anak atau PMBA di lokasi pengungsian. Dapur ini berfungsi menyediakan makanan sesuai kebutuhan gizi anak serta memastikan proses pengolahan yang aman.

“Tanpa air bersih yang cukup, penggunaan susu formula justru berisiko bagi kesehatan bayi,” katanya.

Baik Tan maupun Leonirma sepakat bahwa perlindungan kesehatan bayi dan anak saat banjir membutuhkan peran aktif orang tua, tenaga kesehatan, serta pengelola pengungsian. Edukasi mengenai kebersihan, asupan gizi, dan tanda bahaya penyakit dinilai penting untuk menekan risiko gangguan kesehatan.

Orang tua diminta segera membawa bayi atau anak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda bahaya seperti diare disertai dehidrasi, sesak napas, demam tinggi, kejang, muntah terus-menerus, atau luka yang menunjukkan tanda infeksi. Dengan penerapan pola hidup bersih, pemenuhan gizi yang tepat, serta dukungan layanan kesehatan, risiko gangguan kesehatan pada bayi dan anak selama banjir diharapkan dapat diminimalkan.

You Might Also Like

Waspada Stroke Iskemik! Intervensi Vaskular Jadi Solusi Minim Sayatan untuk Kurangi Risiko
Seminggu Belum Padam! Ancaman Bahaya Kebakaran TPA Jatiwaringin Kian Meluas
Daftar 12 Obat Herbal Ilegal Temuan BPOM, Mengandung Bahan Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan
Sakit Kepala Terus-Menerus Bisa Jadi Tanda Tumor Otak, Dokter Ungkap Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pengunjung Jakarta Fair 2026 Bisa Cek Kesehatan Gratis di Booth Kimia Farma Apotek
TAGGED:BanjirKesehatan Anak
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Alarm Merah! 37 Juta Rakyat RI Terjebak ‘Kerja Rodi’ Modern Demi Sesuap Nasi
Next Article Menpora Erick Thohir memaparkan 28 agenda besar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tahun 2026 dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Gedung Nusantara I, Jakarta, Selasa (27/1/2026). (Foto : HO-Kemenpora) Komisi X DPR RI Apresiasi Kemenpora Atas Prestasi di SEA Games dan ASEAN Para Games 2025
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Psikolog Ungkap Penyebab Pelaku Taufik Hidayat Nekat Menyekap dan Menyiksa Korban

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil

4 weeks ago
Kesehatan

IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index