Banjir yang melanda sejumlah kota dan kabupaten di berbagai provinsi di Indonesia memaksa ribuan warga mengungsi. Di tengah kondisi darurat tersebut, bayi dan anak menjadi kelompok paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat keterbatasan air bersih, sanitasi, serta perubahan pola hidup di lokasi pengungsian.
Dokter Spesialis Anak dr. Leonirma Tengguna, M.Sc, Sp.A, CIMI mengatakan lingkungan saat banjir dan pengungsian meningkatkan risiko paparan kuman penyebab penyakit. Keterbatasan fasilitas dasar membuat bayi dan anak lebih mudah jatuh sakit.
Penyakit yang Rentan Menyerang Anak Saat Banjir
Dokter spesialis anak yang berpraktik di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bina Medika tersebut menjelaskan, diare dan gangguan saluran cerna menjadi penyakit yang paling sering dialami bayi dan anak saat banjir. Penyakit ini umumnya dipicu oleh konsumsi air minum dan makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, maupun parasit.
“Diare sering terjadi karena air dan makanan terpapar kuman, seperti e-coli atau Salmonella. Pada bayi dan anak, diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi,” kata dokter Leonirma, Selasa (27/1).
Selain diare, infeksi saluran pernapasan akut juga kerap ditemukan di pengungsian. Udara lembap, suhu dingin, serta kepadatan hunian mempermudah penularan virus influenza dan bakteri penyebab pneumonia.
Penyakit kulit turut menjadi keluhan yang sering muncul akibat kontak langsung dengan air banjir yang kotor. Air banjir berpotensi mengandung bakteri berbahaya, termasuk Leptospira dari urine tikus, sehingga meningkatkan risiko leptospirosis. Genangan air pascabanjir juga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk yang dapat memicu demam berdarah dengue pada anak.
Leonirma menambahkan, bayi dan anak lebih rentan terserang penyakit karena sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna. Cadangan cairan tubuh yang lebih sedikit juga membuat anak lebih cepat mengalami dehidrasi. Perilaku eksploratif, seperti memasukkan tangan atau benda ke mulut, semakin meningkatkan risiko paparan kuman.
Orang tua diminta waspada terhadap tanda awal penyakit, seperti perubahan pola buang air besar, batuk, pilek, napas cepat atau berat, demam yang tidak kunjung turun, tubuh sangat lemas, serta kelainan kulit berupa kemerahan, bintil berair, atau luka yang sulit sembuh.
Pentingnya Kebersihan dan ASI di Pengungsian
Dalam kondisi pengungsian yang minim air bersih dan sanitasi, Leonirma menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Air minum harus dipastikan aman dengan cara dimasak hingga mendidih atau menggunakan air kemasan dengan segel utuh. Kebersihan tangan perlu dijaga dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau pembersih tangan sebelum menyuapi anak dan setelah mengganti popok.
Anak juga disarankan tidak bermain di genangan air banjir. Jika terpapar air kotor, orang tua diminta segera memandikan anak dengan sabun dan memastikan penggunaan alas kaki.
Pemberian air susu ibu atau ASI bagi bayi juga dinilai sangat penting. ASI dianggap lebih aman dan higienis dibandingkan susu formula, terutama ketika akses air bersih terbatas.
Peran Gizi dan Pengelolaan Pangan Anak
Dokter dan ahli gizi masyarakat Dr dr Tan Shot Yen, MHum menyoroti risiko pemberian pangan yang tidak sesuai usia pada bayi dan anak selama berada di pengungsian. Ia menyebut, bayi dan anak kerap diberikan makanan atau minuman yang tidak ramah anak, termasuk susu formula dan produk kemasan, meski kondisi air bersih tidak memadai.
Distribusi bantuan pangan yang tidak terkoordinasi dinilai berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan bayi dan anak. Donasi susu formula sering diterima tanpa mempertimbangkan aspek keamanan pangan dan sanitasi.
Tan mendorong pendirian dapur pemberian makan bayi dan anak atau PMBA di lokasi pengungsian. Dapur ini berfungsi menyediakan makanan sesuai kebutuhan gizi anak serta memastikan proses pengolahan yang aman.
“Tanpa air bersih yang cukup, penggunaan susu formula justru berisiko bagi kesehatan bayi,” katanya.
Baik Tan maupun Leonirma sepakat bahwa perlindungan kesehatan bayi dan anak saat banjir membutuhkan peran aktif orang tua, tenaga kesehatan, serta pengelola pengungsian. Edukasi mengenai kebersihan, asupan gizi, dan tanda bahaya penyakit dinilai penting untuk menekan risiko gangguan kesehatan.
Orang tua diminta segera membawa bayi atau anak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda bahaya seperti diare disertai dehidrasi, sesak napas, demam tinggi, kejang, muntah terus-menerus, atau luka yang menunjukkan tanda infeksi. Dengan penerapan pola hidup bersih, pemenuhan gizi yang tepat, serta dukungan layanan kesehatan, risiko gangguan kesehatan pada bayi dan anak selama banjir diharapkan dapat diminimalkan.