INVERSI.ID – Dokter spesialis gizi klinik Dr. dr. Luciana Sutanto, MS, SpGK (K), menegaskan pentingnya perhatian terhadap asupan gizi untuk mencegah anemia defisiensi besi, khususnya pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Masa ini dinilai krusial dalam menentukan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang sejak dini.
Dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis, dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut menjelaskan bahwa anemia defisiensi besi termasuk dalam kategori anemia gizi yang berkaitan erat dengan ketidakcukupan asupan zat gizi.
“Kenyataannya memang kita masih mendapati anemia di Indonesia sangat tinggi, terutama anemia kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi). Ini memang harus disikapi dengan pencegahan, terutama kesehatan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan,” kata Luciana.
Fokus Gizi Sejak Remaja dan Kehamilan
Luciana menyampaikan bahwa upaya pencegahan anemia perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan. Pemenuhan gizi sebaiknya dipersiapkan sejak masa remaja, terutama bagi perempuan, agar kondisi kesehatan lebih siap ketika memasuki masa kehamilan dan melahirkan.
“Sebelum itu, perempuan yang akan hamil memang harus dipersiapkan kesehatannya. Remaja putri itu penting sekali tahu gizi, tahu bahwa nantinya kalau mereka akan hamil dan melahirkan itu harus siap. Karena kalau tiba-tiba hamil, tapi, enggak sehat, perjuangannya menjadi lebih kompleks lagi,” tutur Luciana.
Ia menambahkan, perhatian terhadap gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga setelah kelahiran, menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan ibu dan anak.
Selektif Informasi dan Pilihan Makanan
Presiden Indonesian Nutrition Association (INA) itu juga mengingatkan masyarakat agar lebih selektif dalam menyerap informasi terkait pola makan sehat yang kini semakin beragam. Menurutnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Luciana menyarankan masyarakat untuk merujuk pada Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan yang telah mengatur kebutuhan nutrisi untuk berbagai kelompok, mulai dari ibu hamil, perempuan dewasa, hingga anak-anak.
“Marilah kita mengacu kepada pedoman makan yang sehat ini dan bersama-sama mensosialisasikan karena banyak sekali informasi yang benar-benar menggiring ke arah yang tidak sehat,” kata Luciana.
Peran Zat Besi dan Vitamin Pendukung
Dalam pencegahan anemia, Luciana menekankan pentingnya konsumsi makanan yang kaya zat besi, seperti hati ayam dan daging, yang sejak lama dikenal sebagai sumber zat besi yang baik.
Seiring perubahan gaya hidup, ia menilai produk pangan komersial yang telah diperkaya zat besi juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif praktis, selama dipilih dengan cermat. Selain itu, konsumsi vitamin yang mendukung penyerapan zat besi, seperti vitamin C, juga perlu diperhatikan agar manfaat zat besi dapat optimal diserap tubuh.