JAKARTA – Dunia mulai memasuki babak baru yang oleh banyak analis disebut sebagai “Energy War”, ketika energi tidak lagi sekadar komoditas ekonomi, tetapi berubah menjadi instrumen geopolitik yang menentukan stabilitas negara.
Dalam beberapa pekan terakhir, serangkaian peristiwa di berbagai belahan dunia memperlihatkan betapa rapuhnya sistem energi global. Gangguan pasokan, lonjakan harga minyak, hingga kebijakan proteksionis negara produsen mulai memicu kekhawatiran akan krisis energi yang lebih luas.
Salah satu potret paling nyata terjadi di Filipina. Lebih dari 400 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di negara tersebut dilaporkan terpaksa menghentikan operasional sementara akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian pasokan minyak global.
Filipina termasuk negara yang sangat rentan terhadap gejolak energi global karena hampir seluruh kebutuhan bahan bakarnya berasal dari impor. Sekitar 98 persen minyak yang digunakan negara tersebut didatangkan dari luar negeri, terutama dari kawasan Timur Tengah.
Ketika harga minyak dunia melonjak dan jalur distribusi energi terganggu, dampaknya langsung terasa di dalam negeri. Di sejumlah wilayah Filipina, harga bahan bakar dilaporkan melonjak hingga menembus lebih dari 100 peso (atau Rp 27.965,- red) per liter, memicu tekanan besar terhadap transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Menteri Energi Filipina, Sharon Garin bahkan memperingatkan kemungkinan terburuk jika situasi tidak segera membaik. “Skenario terburuknya adalah kita mungkin tidak memiliki cukup pasokan atau bahkan benar-benar kehabisan,” ujarnya dikutip dari apluswire.com, mengenai potensi kelangkaan bahan bakar di negara tersebut.
Kondisi ini memicu gangguan aktivitas di berbagai kota. Sebagian transportasi umum berhenti beroperasi karena sulit memperoleh bahan bakar, bahkan banyak warga dilaporkan terpaksa berjalan kaki menuju tempat kerja.
Krisis energi yang meluas juga memaksa beberapa negara mengambil langkah ekstrem demi mempertahankan cadangan energi nasional mereka. Di Bangladesh, pemerintah mengambil kebijakan penghematan energi secara drastis. Listrik di sejumlah kantor pemerintahan dimatikan dan jam kerja pegawai negeri dipangkas sebagai upaya menghemat konsumsi energi.
Langkah ini menggambarkan betapa seriusnya tekanan yang sedang terjadi di sektor energi global. Energi kini bukan hanya persoalan industri atau transportasi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan operasional pemerintahan.
Rusia Tutup Keran Energi Dunia
Sementara itu, langkah paling dramatis datang dari Rusia, salah satu raksasa energi dunia. Pemerintah Rusia memutuskan untuk menghentikan ekspor bensin atau BBM ke pasar internasional mulai 1 April 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik di tengah gejolak pasar global.
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak dari Kantor berita Reuters menyatakan kebijakan tersebut diperlukan agar kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi ketika volatilitas harga minyak dunia meningkat. Larangan ekspor ini diperkirakan berlaku hingga 31 Juli 2026, dan berpotensi memperketat pasokan energi global.
Sebagai salah satu produsen energi terbesar di dunia, keputusan Rusia untuk menutup keran ekspor dapat menciptakan efek domino terhadap pasar energi internasional. Banyak negara yang selama ini bergantung pada pasokan energi dari Rusia berisiko menghadapi tekanan harga yang lebih besar.
Krisis Energi Memasuki Babak Baru
Serangkaian peristiwa ini memperlihatkan satu pola yang semakin jelas, yakni negara-negara mulai memprioritaskan energi untuk kebutuhan domestik mereka sendiri.
Ketika produsen energi menahan ekspor dan negara importir mulai mengalami kelangkaan pasokan, sistem energi global yang selama ini bergantung pada perdagangan lintas negara menjadi semakin rentan.
Dengan konflik geopolitik yang belum mereda dan jalur distribusi energi strategis yang terus menghadapi gangguan, para analis memperingatkan bahwa krisis energi global dapat berkembang menjadi tantangan ekonomi dan geopolitik terbesar dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam situasi seperti ini, energi tidak lagi sekadar komoditas. Ia telah berubah menjadi senjata geopolitik yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi, sosial, bahkan politik banyak negara di dunia.