By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Dunia Masuk Era Energy War! SPBU Filipina Tutup Massal, Rusia Hentikan Ekspor BBM
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Dunia Masuk Era Energy War! SPBU Filipina Tutup Massal, Rusia Hentikan Ekspor BBM

EkonomiInternasionalTerkini

Dunia Masuk Era Energy War! SPBU Filipina Tutup Massal, Rusia Hentikan Ekspor BBM

Dede isharuddin
By
Dede isharuddin
3 months ago
Share
4 Min Read
"Energy War", atau perang energi tengah melanda dunia akibat krisis geopolitik di Timur Tengah. Dari krisis politik dan perang yang melibatkan tiga negara, AS, Israel, dan Iran, kini dampak ekonomi dan energi mulai merambah seluruh dunia. (Foto, generate AI/Dede Isharrudin)
SHARE

JAKARTA – Dunia mulai memasuki babak baru yang oleh banyak analis disebut sebagai “Energy War”, ketika energi tidak lagi sekadar komoditas ekonomi, tetapi berubah menjadi instrumen geopolitik yang menentukan stabilitas negara.

Dalam beberapa pekan terakhir, serangkaian peristiwa di berbagai belahan dunia memperlihatkan betapa rapuhnya sistem energi global. Gangguan pasokan, lonjakan harga minyak, hingga kebijakan proteksionis negara produsen mulai memicu kekhawatiran akan krisis energi yang lebih luas.

Salah satu potret paling nyata terjadi di Filipina. Lebih dari 400 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di negara tersebut dilaporkan terpaksa menghentikan operasional sementara akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian pasokan minyak global.

Filipina termasuk negara yang sangat rentan terhadap gejolak energi global karena hampir seluruh kebutuhan bahan bakarnya berasal dari impor. Sekitar 98 persen minyak yang digunakan negara tersebut didatangkan dari luar negeri, terutama dari kawasan Timur Tengah.

Ketika harga minyak dunia melonjak dan jalur distribusi energi terganggu, dampaknya langsung terasa di dalam negeri. Di sejumlah wilayah Filipina, harga bahan bakar dilaporkan melonjak hingga menembus lebih dari 100 peso (atau Rp 27.965,- red) per liter, memicu tekanan besar terhadap transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Menteri Energi Filipina, Sharon Garin bahkan memperingatkan kemungkinan terburuk jika situasi tidak segera membaik. “Skenario terburuknya adalah kita mungkin tidak memiliki cukup pasokan atau bahkan benar-benar kehabisan,” ujarnya dikutip dari apluswire.com, mengenai potensi kelangkaan bahan bakar di negara tersebut.

Kondisi ini memicu gangguan aktivitas di berbagai kota. Sebagian transportasi umum berhenti beroperasi karena sulit memperoleh bahan bakar, bahkan banyak warga dilaporkan terpaksa berjalan kaki menuju tempat kerja.

Krisis energi yang meluas juga memaksa beberapa negara mengambil langkah ekstrem demi mempertahankan cadangan energi nasional mereka. Di Bangladesh, pemerintah mengambil kebijakan penghematan energi secara drastis. Listrik di sejumlah kantor pemerintahan dimatikan dan jam kerja pegawai negeri dipangkas sebagai upaya menghemat konsumsi energi.

Langkah ini menggambarkan betapa seriusnya tekanan yang sedang terjadi di sektor energi global. Energi kini bukan hanya persoalan industri atau transportasi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan operasional pemerintahan.

Baca Juga :

7 Profesi yang Tepat bagi Pemilik Zodiak Scorpio
Kronologi Jatuhnya Pesawat Tempur Super Tucano TNI AU di Pasuruan, Sempat Laporankan Blind

Rusia Tutup Keran Energi Dunia

Sementara itu, langkah paling dramatis datang dari Rusia, salah satu raksasa energi dunia. Pemerintah Rusia memutuskan untuk menghentikan ekspor bensin atau BBM ke pasar internasional mulai 1 April 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik di tengah gejolak pasar global.

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak dari Kantor berita Reuters menyatakan kebijakan tersebut diperlukan agar kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi ketika volatilitas harga minyak dunia meningkat. Larangan ekspor ini diperkirakan berlaku hingga 31 Juli 2026, dan berpotensi memperketat pasokan energi global.

Sebagai salah satu produsen energi terbesar di dunia, keputusan Rusia untuk menutup keran ekspor dapat menciptakan efek domino terhadap pasar energi internasional. Banyak negara yang selama ini bergantung pada pasokan energi dari Rusia berisiko menghadapi tekanan harga yang lebih besar.

Krisis Energi Memasuki Babak Baru
Serangkaian peristiwa ini memperlihatkan satu pola yang semakin jelas, yakni negara-negara mulai memprioritaskan energi untuk kebutuhan domestik mereka sendiri.

Ketika produsen energi menahan ekspor dan negara importir mulai mengalami kelangkaan pasokan, sistem energi global yang selama ini bergantung pada perdagangan lintas negara menjadi semakin rentan.

Dengan konflik geopolitik yang belum mereda dan jalur distribusi energi strategis yang terus menghadapi gangguan, para analis memperingatkan bahwa krisis energi global dapat berkembang menjadi tantangan ekonomi dan geopolitik terbesar dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam situasi seperti ini, energi tidak lagi sekadar komoditas. Ia telah berubah menjadi senjata geopolitik yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi, sosial, bahkan politik banyak negara di dunia.

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!
Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat
Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
TAGGED:BangladeshEnergi GlobalEnergy warFilipinaRUSIA
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Isu Kenaikan BBM Dibantah, Pemerintah Jamin Harga Tetap Stabil
Next Article Jakarta Makin Padat, Dukcapil Catat 225 Pendatang Baru di Jaksel
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

Janji Tinggal Janji? Kepercayaan Warga Karo Tergerus di Tengah Sengketa RSUD Kabanjahe

Ekonom Sebut Gebrakan B50 Akan Perkuat Rupiah, Selamatkan APBN dan Stop Impor Solar

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Argentina Terlalu Tangguh untuk Swiss, Jadi Penyelamat Amerika Latin di Piala Dunia 2026

21 hours ago
Pildun 2026Terkini

Inggris Tunjukkan Mental Juara, Singkirkan Norwegia dan Melaju ke Semifinal

21 hours ago
Internasional

Konflik AS-Iran Memanas, PBB Ingatkan Ancaman bagi Stabilitas Dunia

3 days ago
Internasional

Cuaca Ekstrem Melanda Korea Selatan, Pemerintah Tetapkan Siaga Gelombang Panas Level Peringatan

3 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index