INVERSI.ID – Tanpa disadari, penggunaan media sosial secara berlebihan bisa membawa dampak serius bagi kesehatan mental dan fisik, terutama di kalangan remaja. Salah satu efek yang mulai banyak ditemukan adalah gangguan makan (eating disorder), yakni kondisi mental yang memengaruhi perilaku makan secara tidak sehat.
Di era digital, media sosial menjadi pemicu utama munculnya gangguan makan, lewat paparan konten yang menampilkan standar tubuh “ideal” atau gaya hidup sehat yang tak jarang justru menyesatkan.
Koneksi Berlebihan Bisa Merusak Pola Makan
Mengakses media sosial untuk menggali informasi atau berinteraksi dengan teman mungkin terasa menyenangkan. Namun, berbagai studi membuktikan bahwa paparan media sosial yang berlebihan bisa memicu kecemasan terhadap bentuk tubuh, serta perilaku makan yang ekstrem.
Jenis gangguan makan yang umum di kalangan remaja antara lain:
- Anoreksia nervosa: ketakutan ekstrem terhadap kenaikan berat badan.
- Bulimia nervosa: makan dalam jumlah banyak lalu memuntahkannya secara paksa.
- Binge-eating disorder: keinginan makan berlebihan dan tak terkendali.
Menurut laporan tahun 2023, dari 63 ribu remaja di 16 negara, hampir 15 ribu di antaranya mengalami gangguan makan. Bahkan, di studi lain, sebanyak 444 dari 782 remaja usia 14–17 tahun menunjukkan gejala gangguan makan yang dipicu oleh kecanduan media sosial.
Perempuan Lebih Rentan Terpapar
Gangguan makan lebih banyak dialami oleh remaja perempuan. Mereka lebih sering merasa tidak puas terhadap bentuk tubuhnya, akibat terpapar konten yang menampilkan standar kecantikan yang tidak realistis.
Salah satu tren yang jadi sorotan adalah fitspiration, konten yang mengajak hidup sehat dan berolahraga. Meski bertujuan positif, tren ini bisa menimbulkan tekanan bagi remaja untuk tampil sempurna, yang pada akhirnya mendorong perilaku makan yang ekstrem atau konsumsi suplemen berlebihan.
Lebih parah lagi, gangguan makan bisa berkembang menyerupai kecanduan. Saat seseorang mendapatkan like atau comment dari unggahan tentang diet atau tubuhnya, otak melepaskan dopamin, hormon yang memunculkan rasa senang dan ketagihan. Hal ini membuat pengidap sulit menyadari bahwa kebiasaan makannya sudah tidak sehat.
Dampak Serius Bagi Kesehatan
Gangguan makan yang tidak ditangani dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari:
- Anemia
- Malnutrisi
- Penurunan berat badan ekstrem
- Rambut rontok
- Menurunnya sistem kekebalan tubuh
Pada kasus bulimia nervosa, dampak yang bisa terjadi meliputi pembengkakan rahang, gangguan menstruasi, kerusakan gigi, hingga gusi berdarah. Sementara anoreksia nervosa bisa menyebabkan gangguan irama jantung, kerusakan otak, bahkan kematian jika tidak ditangani.
Remaja perempuan yang mengalami kekurangan zat gizi dalam jangka panjang juga berisiko melahirkan anak dengan kondisi stunting di masa depan.
Cegah Gangguan Makan Sejak Dini
Penting untuk mengenali tanda-tanda gangguan makan sejak dini, serta membatasi paparan konten yang bisa memicu kecemasan terhadap citra tubuh. Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat dibutuhkan dalam memberikan edukasi serta menciptakan ruang aman bagi remaja untuk tumbuh sehat secara fisik dan mental.***