INVERSI.ID – Dokter spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Wirawan Hambali, Sp.PD, FINASIM memaparkan tanda-tanda umum diabetes melitus beserta potensi komplikasinya, baik yang bersifat akut maupun kronis. Edukasi ini penting agar masyarakat lebih waspada terhadap gejala awal diabetes dan memahami risiko jangka panjangnya.
“Jadi, kalau kita sebut gejala klasik dari diabetes itu adalah 4P mulai dari kadar gula tinggi dan penurunan berat badan, banyak makan, banyak berkemih, dan cepat haus,” kata Wirawan dalam temu media di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan, lonjakan kadar gula darah yang disertai penurunan berat badan drastis terjadi karena glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel akibat kekurangan insulin. Kondisi tersebut membuat sel tubuh kekurangan energi dan memicu rasa lapar terus-menerus pada penderita.
“Makanya kita bisa lihat bahwa ada situasi di mana pasien yang diabetes lanjut tidak diobati, yang tadinya gemuk, perlahan-lahan berat badannya turun. Kenapa? Karena tidak bisa terjadi utilisasi glukosa oleh sel-sel,” katanya.
Gejala lain yang sering muncul adalah polifagia atau rasa lapar berlebihan. Penderita cenderung ingin makan terus-menerus meskipun sudah mengonsumsi makanan dalam jumlah cukup.
Selain itu, diabetes juga ditandai dengan frekuensi buang air kecil yang meningkat. Wirawan menyebutkan bahwa urine penderita diabetes kerap mengandung kadar gula tinggi, bahkan sering kali menarik perhatian semut karena kandungan glukosanya.
“Air kencing orang diabetes itu mengandung gula, sehingga osmotiknya tinggi, sehingga sebenarnya akan menarik cairan dari dalam tubuh. Itu makanya kenapa orang diabetes itu banyak kencing,” ujarnya.
Kondisi ini dikenal sebagai diuresis osmotik, yaitu peningkatan produksi urine akibat tingginya zat terlarut seperti glukosa di ginjal. Akibat terlalu sering buang air kecil, tubuh kehilangan banyak cairan sehingga penderita menjadi cepat haus atau mengalami polidipsia.
Lebih lanjut, Wirawan menjelaskan bahwa komplikasi diabetes melitus terbagi menjadi dua kategori utama, yakni jangka pendek dan jangka panjang.
Komplikasi akut biasanya terjadi akibat perubahan ekstrem kadar gula darah dalam waktu singkat, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Situasi ini dapat memicu kondisi darurat medis, termasuk koma diabetik.
Sementara itu, komplikasi kronis muncul akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang. Dampaknya dapat merusak pembuluh darah kecil, pembuluh darah besar, hingga organ non-pembuluh darah.
Kerusakan pada pembuluh darah kecil berisiko menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan, serta kerusakan ginjal. Adapun gangguan pada pembuluh darah besar dapat memicu penyakit jantung koroner dan stroke.
Selain itu, komplikasi jangka panjang yang tidak berkaitan langsung dengan pembuluh darah juga dapat terjadi, seperti perlemakan hati dan gangguan peristaltik usus.
Edukasi mengenai gejala 4P diabetes melitus dan risiko komplikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini serta menjaga kadar gula darah tetap terkontrol melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan rutin.