INVERSI.ID – Psikiater Subspesialis Psikiatri Adiksi Dr. dr. Kristiana Siste Kurniasanti, SpKJ(K) menjelaskan bahwa kecanduan judi, termasuk judi online, dapat terjadi melalui beberapa pola perilaku yang berbeda pada setiap individu.
Kristiana mengungkapkan setidaknya ada tiga pola atau pathway yang dapat membuat seseorang terjerumus dalam kecanduan judi.
Pada pola pertama, seseorang biasanya hanya mencoba perjudian karena rasa penasaran atau sekadar ingin tahu. Selama individu tersebut tidak memiliki kecenderungan genetik terhadap kecanduan dan tidak memiliki karakter impulsif, kebiasaan tersebut umumnya tidak berkembang menjadi kecanduan.
“Orang yang memang tidak ada secara genetik untuk mengalami suatu kecanduan judi. Misalnya dia bermain judi online secara iseng-iseng, punya akses dan uang, dia tidak akan berakhir ke kecanduan. Karakternya juga tidak impulsif,” kata Kristiana.
Kepala Departemen Psikiatri Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu menjelaskan bahwa pola kedua biasanya terjadi pada individu yang memiliki masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan berlebih, atau mudah menyerah. Kondisi psikologis tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang terjebak dalam perilaku perjudian hingga berujung pada kecanduan.
Sementara itu, pola ketiga berkaitan dengan karakter individu yang impulsif. Orang dengan sifat tersebut cenderung tertarik pada aktivitas yang berisiko tinggi atau melanggar norma, sehingga lebih rentan mengalami kecanduan judi dan memerlukan penanganan yang lebih kompleks.
“Yang pathway pertama itu biasanya mereka tidak datang ke tempat kita karena akan sembuh atau berhenti sendiri, misalnya ‘aku sudah kalah banyak nih, waktunya aku berhenti’. Yang akan datang ke tempat kesehatan yang pathway dua dan tiga,” tutur dia.
Kristiana menambahkan bahwa perilaku judi saat ini dikategorikan sebagai bentuk adiksi atau kecanduan perilaku. Sejak tahun 2022, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah mengklasifikasikan perjudian (gambling) dan gim (gaming) sebagai jenis kecanduan non-zat.
Menurutnya, setiap individu memiliki motivasi berbeda saat mulai berjudi. Ada yang sekadar mencoba untuk bersenang-senang, mengikuti ajakan teman, hingga akhirnya terjerumus dalam kebiasaan yang sulit dihentikan.
Selain itu, sebagian orang juga berjudi dengan tujuan mendapatkan keuntungan finansial secara cepat. Bagi individu yang memiliki karakter impulsif dan menyukai hasil instan, aktivitas perjudian kerap dianggap sebagai jalan pintas untuk memperoleh uang.
“Ketika dia berkaitan dengan judi online yang tadinya iseng-iseng, kemudian berakhir ke suatu kecanduan karena memang karakteristiknya itu senang sesuatu yang instan dan yang impulsif, akhirnya memang bermasalah,” imbuh dia.