JAKARTA, INVERSI – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mencatat capaian positif sektor hulu migas nasional sepanjang tahun 2025. Rata rata lifting minyak bumi berhasil mencapai 605,3 ribu barel minyak per hari atau setara dengan 100,5 persen dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar 605 ribu barel per hari.
Capaian ini menandai keberhasilan pemerintah dalam memenuhi target produksi minyak setelah hampir satu dekade tidak tercapai.
Hal tersebut disampaikan Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 yang digelar di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta pada Kamis. Dalam keterangannya, Bahlil menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan tersebut karena target lifting minyak akhirnya dapat dicapai dan bahkan sedikit melampaui target APBN.
“Target kita di APBN untuk lifting minyak adalah 605 ribu barel per hari. Alhamdulillah realisasinya mencapai 605,3 ribu barel per hari, artinya target tercapai dan bahkan melampaui meskipun tipis,” ujar Bahlil di hadapan awak media.
Bahlil menjelaskan bahwa angka lifting minyak tersebut sudah mencakup kontribusi Natural Gas Liquid dan kondensat yang dihasilkan oleh PT Donggi Senoro LNG. Dengan perhitungan tersebut, realisasi lifting minyak 2025 dinilai mencerminkan kinerja sektor hulu migas yang semakin membaik.
Ia mengungkapkan bahwa capaian ini memiliki arti penting mengingat dalam kurun waktu hampir sepuluh tahun terakhir, target lifting minyak dalam APBN selalu gagal dicapai. Menurut Bahlil, terakhir kali Indonesia mencatat peningkatan produksi minyak dan gas yang memenuhi target terjadi pada tahun 2016.
“Setelah 2016, lifting minyak kita tidak pernah lagi mencapai target APBN. Alhamdulillah pada tahun 2025 ini target tersebut akhirnya dapat kita capai kembali,” katanya.
Meski demikian, capaian berbeda terjadi pada sektor gas bumi. Kementerian ESDM mencatat rata rata lifting gas bumi sepanjang 2025 mencapai 951,8 ribu barel setara minyak per hari. Angka ini masih berada di bawah target APBN 2025 yang ditetapkan sebesar 1.005 ribu barel setara minyak per hari.
Bahlil menjelaskan bahwa angka lifting gas bumi tersebut tidak termasuk Natural Gas Liquid karena komponen tersebut telah dihitung sebagai bagian dari lifting minyak bumi. Dengan demikian, perhitungan dilakukan secara terpisah agar tidak terjadi duplikasi data.
Walaupun lifting gas bumi tidak mencapai target, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia berhasil menjaga ketahanan energi nasional dengan tidak melakukan impor Liquefied Natural Gas sepanjang tahun 2025. Hal ini dinilai sebagai pencapaian penting di tengah meningkatnya kebutuhan energi domestik.
Menurut Bahlil, pada awal tahun 2025 sempat muncul wacana impor LNG sebanyak empat puluh hingga lima puluh kargo. Wacana tersebut muncul akibat eskalasi permintaan gas dalam negeri yang melampaui perencanaan awal pemerintah.
Di sisi lain, sejumlah pengelola wilayah kerja gas bumi yang memproduksi LNG telah lebih dahulu mengikat kontrak ekspor. Kontrak tersebut ditandatangani pada tahap perencanaan pengembangan atau plan of development, di mana kepastian pasar menjadi syarat utama pengembangan lapangan gas. Pada saat perencanaan tersebut dibuat, pasar domestik belum mampu menyerap seluruh LNG yang dihasilkan.
Untuk mengatasi situasi tersebut, pemerintah kemudian mengambil kebijakan menunda sebagian kargo ekspor LNG ke tahun 2026. Langkah ini dilakukan agar pasokan gas dalam negeri tetap terjaga tanpa harus bergantung pada impor.
“Mencari titik tengah dari kondisi ini, pemerintah memutuskan untuk menunda sebagian ekspor LNG sehingga kebutuhan dalam negeri bisa dipenuhi. Dengan kerja keras semua pihak, sepanjang 2025 Indonesia tidak melakukan impor gas,” ujar Bahlil.
Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kedaulatan energi nasional serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam untuk kepentingan domestik. Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan produksi migas nasional sekaligus memastikan keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan kewajiban ekspor.
Dengan capaian lifting minyak yang kembali memenuhi target APBN serta keberhasilan menghindari impor LNG, Bahlil menilai kinerja sektor ESDM sepanjang 2025 menunjukkan tren perbaikan yang signifikan. Pemerintah berharap momentum ini dapat menjadi fondasi untuk meningkatkan produksi energi nasional dan memperkuat ketahanan energi Indonesia pada tahun tahun mendatang.