JAKARTA — Wacana impor tabung Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram dari China menuai sorotan publik. Namun di balik kritik tersebut, sejumlah kalangan menilai langkah pemerintah justru merupakan strategi taktis untuk mempercepat transisi energi nasional dan memutus ketergantungan terhadap LPG impor yang selama ini membebani devisa negara.
Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menegaskan impor tabung pada tahap awal bukan persoalan besar selama program konversi dari LPG ke CNG bisa segera berjalan.
“Kalau untuk tahap awal tabungnya masih harus diimpor saya kira ya enggak masalah, yang penting jalan dulu gitu ya. Nanti pada saatnya bisa diproduksi sendiri tabungnya di Indonesia,” kata Fahmy kepada media, Selasa (19/5/2026).
Menurut Fahmy, logika efisiensi nasional harus dikedepankan. Jika pemerintah memaksakan pembangunan industri tabung tekanan tinggi dari nol di dalam negeri, proses migrasi energi rumah tangga diperkirakan bisa molor bertahun-tahun. Kondisi tersebut justru dinilai hanya memperpanjang ketergantungan Indonesia pada impor LPG.
Ia mengingatkan, selama ini sekitar 70 persen kebutuhan LPG 3 kilogram masih bergantung pada impor. Di sisi lain, subsidi LPG terus membengkak dan menguras APBN setiap tahun.
Sebaliknya, Indonesia memiliki cadangan gas bumi melimpah yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi CNG nasional.
“CNG ini bahan dasar gasnya lebih murah sehingga ini bisa hemat devisa, bisa hemat subsidi. Kalau itu kemudian masih mengimpor tabungnya saya kira ya enggak apa-apa sebagai tahap awal. Komponen utamanya kan dari gas alam, dan gas alam kita mempunyai berlimpah ruah,” jelasnya.
Pemerintah sendiri tengah mematangkan implementasi penggunaan CNG sebagai substitusi LPG impor. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemanfaatan CNG untuk sektor hotel, restoran hingga MBG sudah berjalan.
“Ya, seperti saya laporkan pertama, menyangkut dengan CNG ya. Itu untuk 12 kilo sama 20 kilo lebihnya kan sudah jalan. Di hotel-hotel, restoran, di MBG itu sudah jalan,” ujar Bahlil usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, pekan lalu,
Untuk tabung setara 3 kilogram bagi rumah tangga, pemerintah masih melakukan pengujian keamanan karena tekanan gas mencapai 250 bar.
“Nah, 3 kilogram ini daya tekanannya kan besar, 250 bar. Jadi ini harus dicek dulu. Kalau sudah lolos uji, baru bisa kita luncurkan,” jelas Bahlil.
Sementara itu, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman memastikan tabung tahap awal memang akan diimpor dari China karena teknologi tabung Tipe 4 ukuran kecil belum diproduksi massal secara luas di dunia.
“Nah, untuk memesan material barangnya ini, kita tidak boleh pesan sedikit, harus banyak. Minimum order sekitar 100 ribuan. Makanya, kalau ada yang bertanya kok belum dibuat? Ya, memang harus di-order 100 ribu unit atau lebih baru bisa diproduksi,” ujar Laode.
Pemerintah menargetkan pemesanan perdana dilakukan dalam tiga bulan ke depan sebelum masuk tahap uji coba nasional.
Meski harga tabung CNG relatif mahal karena material khusus, pemerintah memastikan penghematan jangka panjang jauh lebih besar dibanding terus bergantung pada LPG impor.
“Subsidi bisa berkurang 30 sampai 40 persen karena efisiensi penggunaan gas bumi kita sendiri,” pungkas Laode.