Inversi. Indonesia memiliki modal demografi krusial: 69,51% penduduk berada di usia produktif. Namun, Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, menegaskan bahwa potensi ini harus diinkubasi dari stigma konsumtif menjadi produktif.
Melalui Talkshow Ultimate Fest, pemerintah, akademisi, dan praktisi sepakat: generasi muda adalah kunci transisi menuju ekonomi hijau, sebuah jalur pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan ekologis dan sosial.
Pembangunan berkelanjutan adalah imperatif global yang menuntut kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor. Di Indonesia, tugas berat ini berada di pundak Generasi Z (Gen Z) dan Milenial, yang membentuk 38% populasi.
Talkshow Ultimate Fest bertajuk ‘Menanam Harapan Menumbuhkan Aksi, Generasi Muda untuk Indonesia Berkelanjutan’ yang digelar di University Club UGM, Kamis (13/11), menjadi wadah strategis untuk mendefinisikan peran tersebut.
Mengubah Stigma: Kombinasi Digital Mindset dan Energi Futuristik
Dr. Hempri Suyatna, Dosen Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan UGM, menekankan perlunya habituasi dan edukasi berkelanjutan untuk mengoptimalkan potensi anak muda.
“Kita perlu mengubah stigma bahwa anak muda hanya konsumtif. Mereka justru memiliki kemampuan transformasi, digital mindset, dan energi futuristik yang bisa dikombinasikan untuk memecahkan isu-isu sosial dan lingkungan,” ujar Dr. Hempri.
Pesan ini menginspirasi: kekuatan generasi muda terletak pada cara mereka mengintegrasikan kecerdasan digital dengan idealisme ekologis. Kolaborasi lintas sektor akademisi, pemerintah, dan wirausaha diperlukan untuk membentuk generasi yang produktif, visioner, dan peduli pada keberlanjutan.
Menutup Gap Investasi Hijau: Tantangan dan Peluang
Enrico David Tarigan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI, menyoroti tantangan nyata: kompleksitas global, kesenjangan keterampilan, dan kebutuhan investasi besar.
Analis Kebijakan Kemenkeu, Prama Wiratama, memberikan data konkret: Indonesia memerlukan sekitar Rp400 triliun per tahun untuk program penurunan emisi, sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) baru mampu memenuhi sekitar 13% dari kebutuhan tersebut.
Defisit pendanaan (funding gap) yang besar ini menciptakan dua hal:
- Peluang Inovasi: Membuka ruang lebar bagi wirausaha muda untuk menciptakan solusi bisnis yang dapat menarik investasi hijau.
- Tuntutan Keterampilan: Transisi menuju ekonomi rendah karbon menuntut skill set baru, seperti di bidang green technology, data analysis, dan financial modeling berbasis keberlanjutan.
Kemenkeu mendorong keterlibatan Gen Z melalui upaya seperti pengembangan green taxonomy dan penyediaan ruang literasi/jejaring (Ultimate Fest) sebagai upaya untuk menutup gap tersebut.
Solusi Kreatif dan Praktis dari Praktisi
Diskusi ini diperkaya oleh solusi praktis dari para praktisi dan akademisi:
- Bioteknologi dan Biorefinery (Dr. Eko Agus Suyono, UGM): Eko Agus memperkenalkan potensi mikroalga sebagai solusi ekonomi dan ekologi. Mikroalga dapat menyerap CO₂ dan menghasilkan beragam produk bernilai tinggi (pangan, pakan, energi) melalui proses biorefinery. Ini adalah contoh konkret bagaimana riset akademis dapat menghasilkan solusi ekonomi hijau.
- Green Entrepreneurship (Diyanto Imam, New Energy Nexus): Diyanto menyoroti minimnya peran wirausaha dalam diskusi energi bersih di masa lalu. Melalui Kinetik Next, ia mendorong anak muda untuk berani mengembangkan gagasan dan solusi bisnis kreatif, menegaskan bahwa esensi bisnis adalah kreativitas dan inovasi.
- Edukasi yang Membumi (Siti Soraya Cassandra, Kebun Kumara): Soraya menekankan pentingnya menciptakan keterhubungan masyarakat kota dengan alam. Keberlanjutan harus diinternalisasi dalam praktik sehari-hari, seperti berkebun dan mengenal tanaman, menghidupkan kembali tradisi Nusantara yang dekat dengan alam.
Masukan dan Arahan Penting bagi Generasi Muda
Berdasarkan diskusi yang berwawasan luas ini, berikut adalah pesan dan arahan penting bagi generasi muda Indonesia:
- Transformasi Perilaku dari Konsumtif ke Produktif: Sadari bahwa modal terbesar Anda adalah digital mindsetdan energi. Gunakan keduanya untuk menciptakan solusi, bukan hanya mengonsumsi tren. Jadikan masalah lingkungan dan sosial sebagai peluang bisnis.
- Kembangkan Green Skill Set: Jangan puas hanya dengan pengetahuan akademik umum. Ke depan, pasar kerja akan menuntut keterampilan spesifik terkait transisi hijau (misalnya: Sustainable Finance, Carbon Accounting, Renewable Energy Engineering). Cari sertifikasi dan pengalaman hands-on di bidang ini.
- Ambil Peran Wirausaha: Jangan menunggu pekerjaan datang, ciptakanlah. Defisit investasi hijau sebesar Rp400 triliun per tahun adalah market opportunity raksasa. Kembangkan model bisnis berbasis bioteknologi, energi terbarukan, atau pertanian berkelanjutan.
- Praktikkan Keberlanjutan dalam Keseharian: Idealisme harus membumi. Mulai dari aktivitas sederhana seperti berkebun, memilah sampah, hingga mengurangi konsumsi yang merusak lingkungan. Kesadaran lingkungan yang tumbuh secara organik akan meningkatkan kemampuan reflektif dan empati sosial Anda.
- Jalin Kolaborasi Lintas Sektor: Gunakan wadah seperti Ultimate Fest untuk berjejaring dengan Kemenkeu, akademisi (UGM), dan pioneer bisnis hijau. Solusi kompleks tidak bisa dipecahkan sendirian; ia membutuhkan sinergi triple helix Pemerintah, Akademisi, dan Bisnis.