JAKARTA – Di tengah ketidakpastian pasar energi global, pemerintah Indonesia dinilai tidak hanya fokus menjaga stabilitas harga energi hari ini, tetapi juga tengah menyiapkan lompatan teknologi menuju masa depan energi yang lebih mandiri.
Guru Besar Universitas Sultan Agung (Unissula) Prof. Henry Indraguna menilai langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto melalui kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menunjukkan keseriusan dalam membangun fondasi jangka panjang ketahanan energi nasional.
Menurut Henry, strategi pengembangan energi alternatif dan kerja sama strategis internasional yang dilakukan pemerintah merupakan langkah visioner untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil global.
“Strategi energi alternatif yang dilakukan pemerintah merupakan langkah sakti menuju kemandirian energi bangsa,” ujar Henry Indraguna dalam keterangan yang dikirimkan ke redaksi inversi.id, Minggu (5/4).
Henry melihat kebijakan energi pemerintah saat ini bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan wujud “will to power” atau kemauan kuat negara untuk berdaulat di sektor energi.
Menurutnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menunjukkan keberanian dalam mengambil langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional, termasuk melalui pembangunan infrastruktur energi dan penguatan cadangan nasional.
Salah satu langkah konkret adalah rencana pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) BBM di 18 daerah pada 2026 guna memastikan distribusi energi lebih stabil di seluruh wilayah Indonesia.
Henry meyakini program tersebut sejalan dengan visi besar pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi yang menjadi bagian dari agenda strategis pembangunan nasional.
“Langkah ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya kemandirian bangsa melalui swasembada energi,” kata Henry.
Fokus Masa Depan, Bukan Hanya Harga Hari Ini
Dalam pandangan Henry, pendekatan pemerintah saat ini menunjukkan bahwa kebijakan energi Indonesia tidak hanya berorientasi pada stabilitas harga jangka pendek.
Lebih dari itu, pemerintah sedang membangun fondasi teknologi dan industri energi baru untuk menghadapi tantangan masa depan.
Indonesia sendiri memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar, mulai dari panas bumi, tenaga air, tenaga surya, hingga bioenergi yang jumlahnya mencapai 3.686 gigawatt (GW). Namun dari potensi tersebut, yang baru dimanfaatkan masih sangat kecil.
Dengan potensi sebesar itu, pengembangan energi alternatif menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional.
Henry menilai strategi pemerintah dalam mengembangkan energi alternatif merupakan langkah penting untuk menciptakan lompatan teknologi energi di Indonesia.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan atau transisi energi global, tetapi juga menyangkut ketahanan ekonomi dan geopolitik nasional.
“Jika Indonesia mampu mengembangkan energi alternatif secara serius, maka ketergantungan terhadap energi fosil global bisa diputus secara bertahap,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan mitra internasional menjadi faktor penting untuk mempercepat pengembangan teknologi energi baru.
Langkah pemerintah saat ini dinilai sebagai momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai negara yang berdaulat di sektor energi.
Menurut Henry, strategi yang dijalankan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bukan hanya soal pengelolaan energi, tetapi juga bagian dari strategi besar pembangunan nasional.
“Upaya ini bukan sekadar kebijakan energi biasa. Ini adalah strategi besar untuk memastikan Indonesia memiliki kemandirian energi di masa depan,” katanya.
Dengan potensi sumber daya yang melimpah dan dukungan kebijakan yang kuat, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan energi alternatif di kawasan.
Jika strategi ini berhasil, Indonesia tidak hanya akan memiliki energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, tetapi juga lebih mandiri menghadapi gejolak pasar energi global.