Banjir setinggi sekitar satu meter merendam ratusan rumah warga di RT 16 RW 04, kawasan Bojong Kavling, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis. Air masuk hingga ke dalam rumah dan melumpuhkan aktivitas masyarakat sejak pagi hari.
Ketua RT 16, Irah Rahayu, menyebut banjir berdampak pada hampir seluruh permukiman warga di wilayah tersebut.
“Di sini itu ada 450 kepala keluarga (KK), dan 350 lebih bangunan. Sebagian besar rumah itu terendam, enggak lebih dari 50 rumah yang enggak (terendam),” kata Ketua RT 16 Irah Rahayu di kawasan Bojong Kavling, Jakarta Barat, Kamis.
Menurut Irah, hujan lebat yang mengguyur sejak Rabu (28/1) malam hingga Kamis pagi, ditambah dengan pecahnya tanggul kali di ujung kampung, memperparah kondisi banjir.
“Kebetulan lagi hujan besar, ya, lagi deras sekali. Kemudian, dipicu dengan ketinggian air sungai juga, dan kemudian di ujung kampung ini ada tanggul yang pecah,” ujar Irah.
Luapan air sungai akibat tanggul yang jebol membuat kawasan permukiman dengan cepat terendam.
Dampak terhadap Kesehatan Warga
Banjir yang merendam rumah dalam waktu cukup lama berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi warga. Genangan air bercampur lumpur dan limbah rumah tangga meningkatkan risiko penyakit kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Sejumlah warga mengeluhkan kondisi lingkungan yang lembap dan bau tidak sedap akibat air yang belum surut. Selain itu, keterbatasan air bersih dan sanitasi juga menjadi kekhawatiran, terutama bagi warga yang memilih bertahan di rumah dan belum mengungsi ke tempat penampungan.
Gangguan Arus Lalu Lintas dan Aktivitas
Selain berdampak pada kesehatan, banjir juga mengganggu mobilitas warga. Akses jalan di sekitar Bojong Kavling tergenang air sehingga menyulitkan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk melintas.
Genangan air turut memengaruhi aktivitas harian, termasuk kegiatan belajar mengajar. Sejumlah pelajar terpaksa tidak berangkat ke sekolah karena rumah dan jalan menuju sekolah terendam banjir. Hingga Kamis siang, sebagian warga masih memilih bertahan di rumah sambil memantau ketinggian air.