Inversi.id – TNI Angkatan Udara menegaskan komitmennya dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mendorong hilirisasi tebu sebagai salah satu pilar ketahanan energi nasional. Upaya tersebut disampaikan dalam kegiatan Tanam Raya Tebu yang berlangsung di Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan melibatkan unsur pemerintah, industri, serta para petani.
Asisten Teritorial Kepala Staf TNI AU, Marsekal Muda Palito Sitorus, menjelaskan bahwa TNI AU melihat tebu sebagai komoditas strategis yang berpotensi besar dalam mendukung kemandirian energi maupun pangan. Dalam keterangannya, ia menekankan bahwa pemanfaatan tebu tidak hanya terbatas pada produksi gula, tetapi dapat diperluas ke sektor energi terbarukan.
“Saya sampaikan kepada seluruh masyarakat bahwa TNI AU ke depan akan menjadikan tebu sebagai produk ketahanan energi, termasuk pangan. Hilirisasi tidak hanya gula tapi bioetanol dan briket, kami akan berdiskusi dengan pemerintah untuk menjawab ini,” ujar Palito.
TNI AU telah menjadikan tebu sebagai salah satu tanaman unggulan di berbagai pangkalan udara, termasuk Lanud Abdulrachman Saleh, Lanud Adisutjipto, Lanud Iswahjudi, Lanud Pangeran M Bun Yamin, dan Lanud Adi Soemarmo. Menurut Palito, total luas lahan yang telah disiapkan untuk penanaman tebu mencapai sekitar 500.000 hektare. Pengelolaan lahan dalam skala besar tersebut tidak hanya diarahkan untuk pemanfaatan internal TNI AU, tetapi juga untuk mendukung kebutuhan industri nasional yang tengah mengembangkan sumber energi alternatif seperti bioetanol.
Selain fokus pada penanaman, Palito menegaskan bahwa TNI AU juga memberikan pendampingan kepada petani tebu sebagai bagian dari upaya membangun mitigasi terhadap berbagai persoalan di sektor pertanian tebu. Ia menilai bahwa keberhasilan hilirisasi energi berbasis tebu tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pelaku lapangan yang memahami kondisi budidaya secara langsung.
“TNI AU saat ini turun bersama stakeholder memberikan pendampingan,” ucapnya.
Pendampingan tersebut meliputi peningkatan kapasitas petani, penguatan rantai pasok, serta pemetaan kebutuhan teknologi yang relevan.
Menurut Palito, strategi hilirisasi yang dilakukan bersama para mitra bertujuan menghadirkan ketahanan energi dan pangan secara simultan. Ia berharap upaya kolektif ini tidak hanya berkontribusi pada penyediaan energi alternatif yang ramah lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani tebu sebagai fondasi penting industri hilir.
Sementara itu, anggota Komisi VI DPR, Rieke Diah Pitaloka, memberikan apresiasi terhadap langkah TNI AU dalam memperkuat kolaborasi strategis tersebut. Menurut Rieke, pendekatan yang dilakukan TNI AU sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya sinergi nasional dalam pembangunan industri.
“Meminjam istilah Bapak Presiden, syaratnya adalah himpun semua kekuatan rakyat, bangsa, dan negara,” ujar Rieke.
Ia menilai bahwa hilirisasi tebu dalam konteks ketahanan energi merupakan bagian dari visi besar pembangunan industri nasional yang bergerak dari hulu hingga hilir. Dengan keterlibatan TNI AU, pemerintah daerah, petani, dan sektor industri, Rieke optimistis target hilirisasi energi nasional dapat dicapai dalam waktu yang lebih cepat.
“Kami pastikan 2026 menjadi tapak penting perjalanan Indonesia tentang bagaimana kita bergandengan tangan merintis penguatan industri Nasional, dari hulu, tengah dan hilir,” ucapnya.
Rieke menegaskan bahwa langkah ini bukan hanya tentang menghasilkan produk energi alternatif, tetapi juga tentang memperkuat struktur industri dalam negeri agar lebih kompetitif dan mandiri. Ia menambahkan bahwa hilirisasi tebu memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat pedesaan.
Upaya TNI AU dalam mendorong hilirisasi tebu dipandang sebagai langkah strategis yang relevan dengan agenda pembangunan jangka panjang. Sinergi lintas lembaga diharapkan dapat menciptakan rantai nilai yang berkelanjutan, mulai dari penanaman, pengolahan, hingga produksi energi berbasis bioetanol dan biomassa. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan kolaborasi yang solid, hilirisasi tebu dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi ketahanan energi nasional di masa mendatang.
Baca Juga : https://inversi.id/era-baru-energi-hilirisasi-bagaimana-gen-z-bisa-jadi-bagian-dari-amanat-konstitusi/