INVERSI.ID – Paparan layar atau screen time yang tidak terkontrol pada anak menjadi perhatian serius para tenaga medis. Dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp.TKPS(K) menegaskan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan dapat berdampak pada tumbuh kembang hingga kondisi kesehatan anak, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Dalam seminar media yang digelar secara daring di Jakarta, Selasa, Farid menjelaskan bahwa dampak screen time tidak bisa dianggap sepele karena efeknya bisa muncul dalam kurun waktu tertentu.
“Jangka pendek itu konsep terjadinya dampak pada tumbuh kembang atau pada kesehatan anak itu dari 5 tahun, sedangkan jangka panjang konsepnya terjadi setelah 5 tahun paparan screen time,” kata Farid, anggota Unit Kerja koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI.
Ia memaparkan, dampak jangka pendek paling rentan terjadi pada balita, khususnya anak usia di bawah dua tahun. Pada kelompok usia ini, paparan layar berlebih berpotensi memicu keterlambatan perkembangan motorik, hambatan kemampuan bahasa atau speech delay, gangguan kognitif, hingga masalah perilaku seperti hiperaktif, impulsif, dan sulit berkonsentrasi.
“Bahkan ada gangguan perilaku menetap yang mirip seperti autisme atau istilah namanya virtual autism. Jadi, itu sebetulnya mirip autisme saja,” ujar dia.
Selain itu, penggunaan gawai dalam durasi panjang juga berkaitan dengan gangguan tidur. Kebiasaan menatap layar sebelum waktu istirahat dapat mengurangi jam tidur anak. Farid menjelaskan bahwa paparan artificial blue light dari perangkat elektronik bisa mengganggu produksi hormon melatonin, sehingga anak lebih sulit terlelap.
Dalam jangka panjang, anak yang terus-menerus terpapar screen time berlebih berisiko mengalami gangguan fokus, rentan menjadi korban perundungan, mengalami obesitas, hingga penurunan prestasi akademik di sekolah.
“Restriksi posisi lebih dari satu jam yang tetap dapat mengakibatkan obesitas juga, ada risiko-risiko penyakit tidak menular akibat kesehatan fisiknya, dari gangguan tidur, obesitas,” kata dia.
Farid menekankan bahwa screen time disebut berlebihan bukan semata-mata karena durasi yang panjang. Faktor lain seperti tidak adanya seleksi konten dan minimnya keterlibatan orang tua juga berperan besar dalam memengaruhi dampaknya terhadap anak.
“Orang tua juga tidak boleh hanya sekadar mendampingi di sebelah anak saja, tapi, harus aktif sebagai pendamping yang menjembatani antara apa yang sedang dilihat di layar elektronik dengan keterampilan apa yang dapat dipraktikkan di dunia nyata pada anaknya,” tutur dia.
Edukasi mengenai batasan screen time pada anak dinilai penting di tengah derasnya arus digitalisasi. Peran aktif orang tua dalam memilih konten serta mengarahkan anak untuk tetap aktif secara fisik dan sosial menjadi kunci menjaga tumbuh kembang tetap optimal.